DAMPAK GENG BERMOTOR

DALAM beberapa bulan ini, para pembaca Surat Kabar Radar Tasikmalaya hampir setiap minggu mendapat suguhan berita tentang perilaku geng motor di Kota dan Kabupaten Tasikmalaya. Ulah mereka oleh sebagian masyarakat, sudah dianggap keterlaluan seperti perusakan kendaraan, baik mobil maupun motor, merusak bangunan, melakukan pengeroyokan dan kekerasan dengan senjata tajam -umumnya dengan mempergunakan senjata pedang samurai, obeng, dan rantai.
Meskipun tentu saja, masih ada kelompok-kelompok atau geng motor yang berperilaku positif, dan perilaku mereka tidak pernah menyimpang dari berbagai aturan-aturan sosial ataupun dari nilai dan norma sosial yang berlaku.
Fenomena sosial ini tentunya harus mendapat perhatian serius dari semua elemen masyarakat: baik dari pihak satuan pendidikan dan SKPD Pendidikan, tokoh-tokoh masyarakat, akademisi, alim ulama, Polri, media massa, dan lain sebagainya. Mereka semua, harus segera duduk bersama untuk mencari solusi terbaik, agar perilaku negatif kelompok/geng motor ini bisa segera diatasi.
Kelompok atau Geng Motor
Usia mereka yang masuk kelompok atau geng Motor, yang sering berkonvoi di Kota Tasikmalaya, rata-rata berusia SMP/MTs dan SMA/MA. Keberadaan kelompok atau geng motor, dilihat dari kacamata sosiologis adalah sesuatu kewajaran. Kelompok ini termasuk usia remaja, dan mereka juga manusia yang merupakan mahluk sosial, karena itu wajar kalau mereka memerlukan hidup secara berkelompok, dan akhirnya membentuk “geng motor”.
Terbentuknya suatu kelompok bisa disebabkan oleh beberapa dorongan. Seseorang, sebut saja si B mengelompok dengan si A misalnya, karena mereka secara fisik dekat. Mereka dekat karena berasal dari daerah yang sama atau dari kelas atau sekolah yang sama (teori provinquity).
Keinginan seseorang untuk mengelompok tidak saja disebabkan karena mereka dekat secara spasial, namun karena mereka berkelompok disebabkan memiliki kesamaan sikap (teori keseimbangan). Selain itu, ada juga dorongan berkelompok yang lain. Seseorang mengelompokkan diri dengan orang lainnya, karena dorongan praktis, misalkan demi menjaga keamanan (rasa aman), bisa juga demi kebutuhan ekonomi atau alasan sosial praktis lainnya.
Ciri-ciri khas kelompok geng motor (bukan club motor) di Tasikmalaya ini adalah pertama, geng motor merupakan bentuk kelompok informal. Kedua, mereka adalah termasuk kelompok primer.
Geng motor, kami sebut kelompok informal, meskipun memiliki nama kelompoknya, namun keberadaan kelompok ini belum layak untuk dikategorikan kelompok formal (formal group). Karena di dalan formal group, hubungan-hubungan antar anggota dan semua kegiatan didasarkan pada aturan-aturan yang sebelumnya sudah ditentukan, tidak pribadi dan berciri kelembagaan.
Sedangkan geng motor, tidak mempunyai struktur dan organisasi yang pasti. Kelompok ini terbentuk karena pertemuan yang berulang-ulang sehingga menghasilkan terpadunya individu dalam satu kesatuan, simpati dan identifikasi bersama yang diwujudkan dalam kata “kita”. Hubungan yang erat tadi menunjuk contoh kelompok yang konkrit seperti misalnya, keluarga, kelompok-kelompok sepermainan atau kelompok teman sebaya, rukun tetangga dan lain-lain (Soerjono Soekanto,1992).
Pengaruh Teman Sebaya
Dibanding masa kanak-kanak, remaja lebih banyak melakukan kegiatan di luar rumah, baik karena tuntutan pendidikan yang diikutinya, seperti: keharusan untuk mengikuti kegiatan ekstrakurikuler dari sekolah, kegiatan olah raga di luar jam sekolah, keharusan untuk mengikuti renang, bahkan belajar tambahan yang dilakukan di lembaga-lembaga kursus.
Dengan demikian, dalam mengikuti berbagai kegiatan tersebut seorang remaja akan menjadi lebih dekat dengan teman-teman sebayanya, utamanya yang satu sekolah. Beberapa ahli mengakui bahwa perkembangan sosial pada masa remaja lebih melibatkan kelompok teman sebaya dibandingkan orang tua.
Menurut JJ Conger (1991) dalam bukunya Adolescence and youth mengemukakan bahwa kelompok teman sebaya merupakan sumber referensi utama bagi remaja dalam hal persepsi dan sikap yang berkaitan dengan gaya hidup. Bagi remaja, teman-teman menjadi sumber informasi misalnya mengenai bagaimana cara berpakaian yang menarik, musik atau film apa yang bagus, dan sebagainya.
Pada diri remaja, pengaruh lingkungan dalam menentukan perilaku diakui cukup kuat. Walaupun remaja telah mencapai tahap perkembangan kognitif yang memadai untuk menentukan tindakannya sendiri, namun penentuan diri remaja dalam berperilaku banyak dipengaruhi oleh tekanan dari kelompok teman sebaya.
Maraknya Perilaku Negatif Geng Motor
Mencuatnya perilaku negatif anak remaja yang masuk dalam kelompok atau geng motor, dapat disebabkan oleh beberapa hal: yakni faktor internal dan faktor eksternal. Dari faktor internal: pertama, anak geng tersebut memiliki kepribadian yang mengontrol diri yang lemah. Sehingga mereka tidak bisa mengendalikan dan mengerem perilaku yang dianggap tidak baik dan merugikan masyarakat. Kedua, anak yang bersangkutan gagal untuk mengaktualisasikan dirinya. Mereka tidak mampu untuk menunjukkan eksistensi yang positif, yang muncul malahan ulah yang negatif. Kegagalan ini menunjukkan kelemahannya dalam menentukan mana perilaku yang baik dan mana yang tidak baik.
Dari faktor eksternal. Ketiga, mencuatnya perilaku negatif yang dilakukan anak geng motor dipicu juga oleh faktor lingkungan anak, misalnya anak bergaul dengan anak lainnya yang memiliki bawaan perilaku tidak terpuji. Anak tinggal di lingkungan tempat tinggal yang kurang baik. Keempat, faktor keluarga, faktor internal kesatu dan kedua tidak akan terjadi, seandainya di dalam keluarga telah dibekali pendidikan agama, pendidikan etika dan nilai-nilai sosial budaya yang memadai. Perilaku ini, mungkin bisa terjadi apabila komunikasi orangtua tersumbat, apalagi kalau orang tua mereka bercerai.
Solusi
Lalu siapakah yang paling bertanggunjawab untuk membendung perilaku negatif geng motor? dan bagaimakah cara mengatasinya? Kami menyetujui apa yang disampaikan oleh Kadisdik Kota Tasikmalaya Endang Suherman, yang menyatakan bahwa masalah geng motor harus menjadi perhatian semua pihak (Radar Tasikmalaya,20/4/2010).
Berdasarkan pandangan sosiologi, perilaku akan diidentifikasi sebagai masalah sosial apabila ia tidak berhasil dalam melewati belajar sosial (sosialisasi). Perilaku menyimpang harus dilihat sebagai hasil interaksi dari transaksi yang tidak benar antara seseorang dengan lingkungan sosialnya. Dengan demikian, perilaku menyimpang seorang remaja harus dirunut dari bagaimana orang tua mempersiapkan memberi bekal dalam usia dini agar seorang anak siap bersosialisasi dengan lingkungan yang lebih luas.
Keluarga merupakan institusi pertama yang seharusnya memberikan pendidikan terkait dengan nilai-nilai sosial, budaya dan agama yang kuat. Kalau orang tua, tidak cukup waktu untuk memberikan bekal nilai-nilai agama misalnya, orangtua bisa bekerjasama dengan tokoh ulama atau ustadz untuk secara teknis memberikan pendidikannya.
Kerjasama orang tua dengan pihak sekolah sangat diperlukan, untuk memberikan atau mengisi waktu luang anak seusai jam pelajaran. Menurut Cohen dan Felson (dalam Junger, 1990) mengemukakan dalam opportunity theory bahwa, “Jika anda memberikan kesempatan kepada remaja untuk melakukan pelanggaran sebagian besar dari mereka pasti akan melakukannya.” Oleh karena itu, sudah seyogyanya pihak orang tua bekerjasama dengan pihak sekolah untuk memberikan kegiatan di luar sekolah dengan porsi yang tepat.
Demikian juga pendampingan dari pihak penegak hukum, remaja jangan diberi kesempatan untuk melakukan pelanggaran, kalau geng motor telah melakukan tindakan kriminal atau melanggar hukum, hal tersebut harus diberi sanksi, dimana penyelesaiannya sesuai dengan undang-undang dan hukum yang berlaku sama dengan perbuatan melanggar hukum bila dilakukan orang dewasa dan tentu saja memperhatikan HAM anak dan undang-undang yang berlaku.
Apa kesimpulan kita sekarang? Tidak ada sesuatu yang tidak bisa diselesaikan. Kalau ada kemauan tentulah ada jalan keluarnya. Dalam persoalan geng motor, resepnya hanya satu, keterlibatan semua pihak, terutama keluarga untuk memberi bimbingan yang terbaik untuk anak-anaknya.

http://irfannava.blogdetik.com/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: